Tentang Kami


SENIN, 22 FEBRUARI 2010

Grow with Character!(16/100) Series by Hermawan Kartajaya

Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan

SATU hal yang saya lihat konsisten pada diri Pak Ciputra sejak dulu sampai sekarang ialah entrepreneurship. Beliau percaya bahwa inilah yang akan membawa Indonesia maju. Tanpa entrepreneurship, sebuah negara tidak akan maju.

Menurut Pak Ciputra, paling tidak lima persen penduduk sebuah negara haruslah berjiwa pengusaha. Jadi pengusaha sungguhan atau tetap bekerja pada orang lain, tapi punya jiwa pengusaha. Buat saya, kalau Anda karyawan tapi menganggap perusahaan tempat Anda bekerja sebagai perusahaan sendiri, dampaknya akan lain. Bukan cuma pada perusahaannya, tapi terutama pada diri sendiri. Itu yang kurang disadari orang.

Banyak yang berpikir bahwa dia merasa “rugi” kalau menganggap perusahaan tempat dia bekerja kayak perusahaan sendiri. “Kok enak..rugi dong aku…nanti aja kalau aku sudah punya perusahaan sendiri, baru begitu…” Itu alasan orang yang gak mau jadi intrapreneur.

Pak Ci “mengajarkan” kepada saya bahwa orang seperti itu rugi sendiri. Tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Memang, harus diakui, tidak semua perusahaan memberikan kesempatan kepada Anda seperti itu. Harus diakui, susah juga kalau Anda bekerja di divisi produksi, operasi, atau administrasi yang rutin.

Tugasnya hanya melakukan sesuatu menurut SOP (standar operasi prosedur), bahkan tidak boleh berinovasi sedikit pun. Tapi, bila ada bos seperti Pak Ciputra yang selalu “menantang” karyawannya untuk mempunyai jiwa entrepreneurship di perusahaannya, rugi besar kalau tidak diambil.

John Kao adalah bekas profesor di Harvard Business School yang juga produsen film Sex, Lies, and Videotape. Dia melakukan survei entrepreneurship dan menemukan bedanya dengan profesional murni.

Katanya, ada tiga yang paling utama. Pertama, seorang entrepreneur pintar melihat peluang atau opportunity. Sedangkan, seorang profesional lebih suka melihat sisi threat atau ancaman dari suatu situasi.

Situasinya bisa sama, tapi yang satu dilihat sisi positifnya, sedangkan yang satu dari sisi negatifnya.

Tahu cerita orang yang dikirim bosnya untuk survei sepatu di suatu pulau? Ketika balik ke bos yang minta dia survei, si karyawan mengatakan bahwa di sana tidak ada peluang. Kenapa? Di pulau itu tidak ada orang pakai sepatu. Semuanya masih pakai sandal.

Buat si bos, kata “masih” itu jadi peluang untuk ngajarin mereka pakai sepatu. Jadi, peluangnya sangat besar! Sedangkan, si karyawan yang tidak punya jiwa entrepreneurship bilang begitu karena melihat ancaman. Ancaman untuk sebuah tugas jualan sepatu di situ. Maunya cuma jual sepatu di tempat yang orangnya sudah pakai sepatu, tapi banyak saingan!

Tempat seperti itu buat si bos justru ancaman. Jadi, beda kan cara melihat suatu situasi yang sama? Kedua, seorang profesional yang “berhasil” melihat peluang minta semuanya safe. Tidak mau ambil risiko.

Balik ke cerita tadi, walaupun dia mengerti bahwa pulau tersebut adalah peluang, si karyawan minta jaminan bahwa dia akan berhasil jualan sepatu di situ. Mana ada jaminan seperti itu. Si bos, sebaliknya, sudah melihat cara “ngajari” orang-orang di situ untuk pakai sepatu. Dia juga sudah membayangkan berapa besar effort dan cost yang harus dikeluarkan pada tahap awal. Selanjutnya, dia juga sudah membayangkan cost-benefit analysis yang harus dihitung.

Si bos mau ambil risiko dengan perhitungan. Dia juga siap menjadi risk taker dengan persiapan exit strategy kalau gagal supaya tidak rugi secara besar-besaran. Sedangkan, si Karyawan sama sekali gak mau ambil risiko, bahkan menghindarinya. Risk averter!

Dia juga tidak mencoba mencari cara-cara kreatif untuk membuat peluang tadi jadi kenyataan. Menunggu ada SOP-nya…”Kan saya anak buah, kan saya karyawan, kan saya orang gajian….” Dan seterusnya!

Para profesional sering hanya pintar bikin alasan dan defensif kalau ditanyain. Tidak berani menerima challenge. Sedangkan, seorang entrepreneur berani melakukan sesuatu tindakan nyata dengan perhitungan.

Ketiga, sesudah bisa melihat peluang dan menghitung risiko serta mengambil keputusan, masih ada satu lagi yang penting. Yakinkan orang lain, libatkan orang lain, ajak orang lain untuk dapat modal, dapat dukungan, maupun dapat talenta yang bagus.

Seorang profesional yang tidak punya jiwa entrepreneurship tidak berani mengajak orang lain. Takut salah, takut ditolak, dan takut dimarahin orang. Inilah “penyakit” orang yang begitu. Karena itu, banyak pengusaha kecil yang cuma bisa marah-marah pada pemerintah. Minta pelatihan, minta modal, minta bimbingan, bahkan minta bisnis! “Masak saya pengusaha lokal dan kecil tidak (dibantu) memenangkan tender!” Begitu keluhannya.

Seorang entrepeneur sejati -apakah dia sudah jadi pengusaha atau malah tetap jadi karyawan- jarang mengeluh! Tapi, mereka selalu berusaha “menjual idenya” kepada orang lain karena dia yakin bahwa idenya bagus !

Nah, sekarang Anda tahu kan? Ada karyawan yang bermental “pengusaha”. Sebaliknya, ada yang sudah mendirikan perusahaan, tapi “berjiwa” karyawan. Anda milih jadi yang mana? Hahaha!

Setelah 20 tahun lebih, saya pikir-pikir apa yang saya “pelajari” dari Ciputra itu pas dengan hasil riset Prof John Kao. Memang Ciputra is the real entrepreneur! Dia adalah inspirator besar saya saat memulai MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990 di Surabaya. (*) (sumber: JawaPos)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s